Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2016

TAKLIM: Rahasia Sukses Raih Rezeqi Berkah Melimpah (Part I)

Assalamualaykum, Bloggers. Apa kabar? Masih kuat puasanya? Sudah bolong berapa hari? Saya delapan hari, biasa tamu bulanan. Tidak terasa ya sekarang sudah hari ke-17 berpuasa, sedih kalau diingat Ramadan segera berakhir, namun THR belum juga kelihatan hilalnya kualitas puasa kita belum juga meningkat. Duh!
Selama bulan Ramadan ini setiap minggunya di hari rabu kantor saya SCTV Tower alhamdulillah selalu mengadakan taklim dengan mengundang ustad maupun ustadzah untuk berceramah selepas dzuhur. Alhamdulillah sekali bukan Mengingat 1/3 dari keseharian kita dihabiskan di kantor?
Jika menilik dari judul postingan, 'Rahasia Sukses Raih Rezeqi Berkah Melimpah (Part I)' maka apa yang akan saya tuliskan disini adalah isi dari taklim yang baru saja saya ikuti bersama Ustad Boni Shalehudin yang menggagas konsep SPIRITUAL CAPITAL. Beliau juga menulis 2 buah buku (Sukses Mulia is My Life & Spiritual Capital) yang salah satunya (Sukses Mulia is My Life) masuk dalam rekor MURI karena di…

Father's Day: Terimakasih Sudah Merestui Pilihanku

Yang aku tau, tangis ayahku pecah di malam hari bersama ibu beberapa jam setelah priaku menyampaikan keinginannya untuk meminangku. Tutur katanya hangat menasehati priaku akan kehidupan setelah pernikahan dan siapa sesungguhnya putrinya. Namun tajam sorot matanya lekat memandangi priaku seolah berkata, 'siapa kamu berani sekali meminta putriku kecintaanku?'
Yang aku lihat, ayahku tak henti-hentinya mengusap bulir bening yang jatuh dari peluk matanya manakala hari lamaran tiba. Senyum bersahaja selalu menghiasi wajahnya menyambut keluarga priaku. Bukanlah hal mudah bagi seorang ayah melepaskan putrinya kepada seorang pria.
Yang aku dengar, suaranya bergetar hebat kala mengijabkan diriku didepan penghulu, lantas menangis tersedu saat hadirin sekalian mengatakan 'Sah.' Dibalik wajah tegarnya ketika aku menikah, ayah adalah sosok yang paling sedih sekaligus bahagia. Dibalik senyum bahagianya menerima tamu yang hadir, aku tau ayah menyembunyikan airmata bahagianya untukku.


Puasa Pertama: Kantor Samsat Yang Menguji Kesabaran

Karena puasa bukan hanya perkara menahan lapar dan haus, tapi juga kesabaran diri :
Ibu-ibu sebelah : *mencoba mengajak ngobrol* Kok lama ya Dek nomornya acak lagi dipanggilnya. Saya antri dari jam 12 belum juga dipanggil. Mana tutupnya jam 2 lagi selama Ramadhan.
Gue : Saya antri dari jam 11an belum juga dipanggil bu.
Ibu-ibu sebelah : *diem*
5 menit kemudian ibu-ibu itu dipanggil.
Ibu-ibu sebelah : Duluan ya dek...
Gue : Iya bu.. *senyum miris* *enggak rela*
Dalam hati bilang :
'Sabar Riska... Kamu nunggu jodoh aja sabar, masa nunggu panggilan stnk aja ngedumel'.

Keep Calm and Ramadhan Mubarak.